Rabu, 17 Oktober 2012

Si Pelacur Tua

Langit masih legam, bulan juga belum pulang.
Hawa dingin terus jelajahi tubuhku
dari kaki sampai ujung rambut
sesekali menari riang diatas perut

Masa sempurna lepaskan penat jiwa.
Tuk keringkan peluh dalam raga
yang tak henti bergerak meski terasa hina
itu semua demi beberapa lembar saja

Aku sudah lama tak lagi punya harga
kalau ada murah rasanya, beda dengan waktu itu.
Waktu dimana aku teramat ayu nan mempesona.
Buat hidung belang rela pasrahkan semuanya.

Tapi waktu juga yang bakal perlahan membunuhku
sedikit demi sedikit, teramat perih rasanya.
maklumlah, kini aku hanya mantan primadona
yang tambah kendur dilahap usia..

Aku,
cuma pelacur tua..

Rabu, 03 Oktober 2012

Kata Kita

Riang tawa bocah main jungkat jungkit
naik turun silih ganti kanan kiri.
Meski sesekali mainan tua itu berdencit
menyerah dan tak lagi mau di tunggangi

Sementara kita terduduk di sudut taman itu.
Mencari kata diantara pohon jambu
yang sedari tadi belum juga ketemu.
Kita tetap saja terdiam dalam kelu

Rasa kita terus terayun maju mundur
tak mau berhenti, tak mau peduli.
Sampai jatuh di seluncur plastik
hingga terkubur dalam kotak pasir

Tapi aku buat peta harta karun
bekal kita temukan rasa
beri petunjuk temukan kata
sampai kita temukan bahagia

agar tak tersesat dalam nelangsa
supaya tak terjerat dan sengsara
tak juga terkurung sampai gila
sampai sadar kalau kita tak baik bersama..

Kamis, 23 Agustus 2012

cinta & kentut

jangan kentut sembarangan
nanti dibilang tak punya aturan
kentutlah kamu diam diam
lalu tunjuk sembarang orang

cinta juga jangan sembarangan
nanti dibilang tak ada perasaan
tapi jangan kebanyakan diam
takut keburu di sayang orang

walau dulu cuma asal pilih kamu
kenapa sekarang malah jadi rindu?
ini pasti hukuman dari Tuhan
sebab buang cinta sembarangan

tapi kenapa cuma aku yang kena hukuman?
kamu malah sudah punya pegangan
padahal kamu juga sembarangan
buang aku ditengah jalan..

Minggu, 19 Agustus 2012

Burung Kertas

Mereka tak lagi berkicau sekarang
kebanyakan diam, beberapa diantaranya mati.
Warnanya pudar, sayapnya hilang
kasihan..

yang hidup tak kalah mengenaskan
mungkin karena ku kurung mereka seharian
dalam wadah kaca, berhias debu dimana mana
cinta kita juga, tambah berdebu dimakan usia

kau pasti lupa, waktu pertama lipat kertas warna
jadi seratus burung warna warni
masing masing bertuliskan satu mimpi
aku dan kau ketika besar nanti..

tapi kebanyakan harapan mental ditolak Tuhan
terlalu muluk muluk, seperti gunung yang minta dipeluk
tapi cuma satu yang dikabul
burung merah mimpikan bahagianya kau
dengan sang pawang sungguhan







Senin, 06 Agustus 2012

ini filmku

aku seorang pemeran utama,
Tuhan itu sutradaranya.
banyak peran sudah aku mainkan, tapi
peran akan terus berganti seiring waktu, Tuhan yang mau

aku suka berperan menjadi anak kecil,
saat itu aku bisa kencing di sembarang tiang,
orang orang itu tak akan marah,
mereka bilang "namanya juga anak kecil"

aku juga suka peran sebagai remaja,
yang sering memilah hawa muda,
lalu mulai suka dan seketika cinta,
kalau cinta pudar, tinggal cari hawa lainnya

selain itu peran ini identik dengan hura hura,
main sana sini, sampai lupa jam berapa.
tapi tetap saja orang orang itu tak marah,
"maklum anak muda" katanya..

tapi aku tak tahu apa peranku sekarang,
film kali ini terasa berat, panjang dan melelahkan.
seperti menjadi dewasa, padahal kan belum waktunya?
sampai-sampai terpikir ingin jadi seperti orang lain.

atau aku butuh peran pengganti mungkin.
tapi dimana sang Sutradara?
Dia hanya tinggalkan cerita tapi
tak pernah beri tahu harus jadi apa.
ahh kapan Kau ganti lagi ceritanya?!